Materi Zakat Kelas VIII MTS 2022
Materi Zakat
"Dengan Berzakat Jiwa dan Harta Menjadi Bersih"
A. Pengertian Zakat
Zakat menurut bahasa (lughat) memiliki beberapa makna antara lain: tumbuh, suci, berkembang. Sedangkan menurut istilah fikih zakat adalah sejumlah harta yang diambil dari harta tertentu untuk diberikan kepada golongan tertentu.
B. Hukum dan Dalil tentang zakat
Hukum zakat adalah fardhu ain (wajib). Sebagaimana tertuang dalam Al-qur’an dan Hadis.
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ
“Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah bersama dengan orang-orang yang ruku." (QS. Al-Baqarah: 43)
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِوَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
bahwa Rasulullah Saw. mewajibkan zakat fitrah sebesar satu sha' kurma atau satu sha' sya'ir atas seorang hamba, orang merdeka, laki-laki dan perempuan, besar kecil dari orang-orang islam; dan beliau memerintahkan agar dikeluarkan sebelum orang-orang keluar menunaikan”
C. Mustahik Zakat (golongan yang berhak menerima zakat)
1. Fakir
2. Miskin
3. Amil
4. Mualaf
5. Riqab
6. Gharimin
7. Fii Sabilillah
8. Ibnu Sabil
D Non Mustahik (golongan yang tidak berhak menerima zakat)
1. Orang Mampu/Kaya
2. Keturunan Rasulullah Muhammmad Saw. (Bani Hasyim Dan Bani Abdul Mutallib).
3. Orang Non-muslim
4. Orang Yang Dinafkahi Muzakki
5. Budak/Hamba sahaya atau budak yang telah mendapatkan ketentuan yang tidak dijanjikan merdeka oleh tuannya, maka ia tidak berhak mendapatkan zakat, karena tuannyalah yang akan memberikan nafkah kepada mereka.
E Macam-Macam Zakat
1. Zakat Fitrah
Secara bahasa fitrah berarti bersih atau suci. Menurut istilah, zakat fitrah adalah sejumlah harta berupa bahan makanan pokok yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim menjelang hari raya Idul Fitri dengan tujuan membersihkan jiwa dengan syarat dan rukun tertentu. Melaksanakan zakat fitrah hukumnya fardhu `ain atau wajib bagi setiap muslim dan Muslimah, sebagaimana Firman Allah Swt.:
خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْۗ اِنَّ صَلٰوتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ (التوبة:١٠٣)
Artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Attaubah : 103)
Adapun tujuan dari zakat fitrah adalah memenuhi kebutuhan orang-orang miskin pada hari raya Idul Fitri dan untuk menghibur mereka dengan sesuatu yang menjadi makanan pokok penduduk negeri tersebut.
a. Rukun Zakat Fitrah:
1) Niat untuk menunaikan zakat fitrah dengan ikhlas semata-mata karena Allah Swt.
نَوَيْتُ اَنْ اُخْرِجَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ النَّفْسِ فَرْضًا لِلّٰهِ تَعاَلَى
2) Ada pemberi zakat fitrah (muzakki)
3) Ada penerima zakat fitrah (mustahik)
4) Ada barang atau makanan pokok yang dizakatkan.
b. Syarat wajib zakat antara lain:
1) Beragama Islam
2) Orang tersebut berjumpa dengan Ramadhan dan ada pada waktu terbenam matahari pada malam Idul Fitri.
3) Mempunyai kelebihan harta atau makanan baik untuk dirinya maupun keluarganya.
4) Berupa makanan pokok penduduk setempat.
c. Waktu membayar zakat fitrah
Waktu yang diperbolehkan, yaitu sejak awal bulan Ramadhan sampai akhir bulan Ramadhan.
Waktu wajib, ketika sesorang menjumpai Ramadhan walaupun sesaat dan sebagaian bulan Syawal.
Waktu yang dainjurkan yaitu setelah shalat shubuh, sebelum pelaksaan Shalat Id.
Waktu makruh, yaitu menunaikan zakat setelah shalat Idul Fitri.
Waktu yang haram, yaitu membayar zakat fitrah setelah hari raya Idul Fitri.
d. Ukuran zakat fitrah yang wajib dibayarkan
Zakat fitrah ditunaikan dalam bentuk bahan makanan pokok daerah setempat. Sebagai contoh daerah yang makanan pokoknya beras, maka membayar zakat fitrah adalah dengan beras. Menurut pendapat mayoritas ulama, bahwa zakat fitrah di keluarkan dengan kadar ukuran 1 sha‟ yaitu sekitar 3,5 liter atau setara dengan 2,5 kg beras.
2. Zakat Mal
Secara Bahasa maal berarti harta. Menurut istilah zakat mal adalah zakat yang dikenakan atas harta (maal) yang dimiliki oleh seseorang atau lembaga dengan beberapa syarat dan ketentuan yang berlaku dalam hukum Islam. Pendapat lain mengatakan zakat mal atau zakat harta adalah zakat yang harus dikeluarkan oleh seseorang ketika harta tersebut telah mencapai satu nisab dan telah mencapai satu tahun. Adapun tujuan dari zakat maal adalah untuk membersihkan dan mensucikan harta benda mereka dari hak-hak kaum miskin diantara umat Islam. Allah Swt. berfirman:
وَفِيْٓ اَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّاۤىِٕلِ وَالْمَحْرُوْمِ
Artinya: “Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta, dan orang miskin yang tidak meminta. (QS. Azzariyat: 19)
a. Syarat Wajib Zakat Mal
1. Orang baligh dan berakal sehat
2. Merdeka tidak budak
3. Islam
4. Harta yang dimiliki seperti emas, perak, binatang ternak, uang, pertanian, hasil tijaroh, dll.
5. Sudah mencapai nisab dan haul (setahun) kecuali zakat pertanian.
6. Harta kelebihan kebutuhan pokok.
b. Macam-Macam Harta Zakat Mal
1. Emas dan perak
Contoh: Pak Zaidan mulai membuka toko dengan modal Rp. 300 juta pada bulan Ramadhan 1440 H. Pada bulan Ramadhan 1441 H, perincian zakat barang dagangan Pak Zaidan sebagai berikut:
- Nilai barang dagangan = Rp.150.000.000
- Uang yang ada = Rp. 10.000.000
- Piutang = Rp.10.000.000
- Utang = Rp. 20.000.000 (yang jatuh tempo tahun 1441 H)
Perhitungan Zakat
= (Rp.150.000.000 + Rp.10.000.000 + Rp.10.000.000 – Rp. 20.000.000) x 2,5%
= Rp. 150.000.000 x 2,5%
= Rp. 3.750.000
Hasil pertanian atau tanaman wajib dizakati dengan tiga syarat. Pertama, tanaman merupakan jenis tanaman yang banyak ditanam oleh masyarakat. Kedua, tanaman merupakan jenis makanan pokok. Ketiga, telah mencapai nisab yaitu 5 wasaq
(sekitar 750 kg tanpa kulit).
Zakat pertanian dibayarkan setiap panen, tidak menunggu satu tahun. Adapun kadar zakat pertanian adalah 10% apabila sistem pengairannya atau sumber yang didapatkan dengan tidak mengeluarkan biaya.
Apabila pertanian atau perkebunan sistem pengairannya tidak alami tetapi dengan mengeluarkan biaya, maka zakat yang harus dikeluarkan adalah 5 %. Akan tetapi, jika sistem pengairannya alami dari air hujan, air sungai. Maka zakat yang harus dikeluarkan adalah 10%.
Sebagaimana dalam hadis Rasulullah Saw: Yang diairi oleh air hujan, mata air dan air tanah, zakatnya 10%, sedangkan yang disirami air (irigasi) maka zakatnya 5%”.
jika hasil pertanian itu selain makanan pokok, seperti buah-buahan, sayur-sayuran, daun, bunga, dan sebagai nya, maka nisabnya, disetara kan dengan harga nisab dari makanan pokok yang paling umum di daerah tersebut.
Keterangan tabel 3. harta hasil tanaman (bijian atau tumbuhan) adalah sebagai berikut:
2. Biji-bijian seperti gandum sya'ir (gandum yang masih kasar) dan gandum burr/hintoh (gandum yang sudah dihaluskan). Seperti dalam hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang berbunyi:
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ
bahwa Rasulullah Saw. mewajibkan zakat fitrah sebesar satu sha' kurma atau satu sha' sya'ir atas seorang hamba, orang merdeka.
4. Umbi-umbian seperti bawang merah, bawang putih, singkong, ubi, kentang. Menurut mazhab Maliki, Syafi’i dan Hambali tidak wajib dizakati kecuali dimaksudkan untuk bisnis (masuk kategori zakat perdagangan).
5. Buah-buahan, seperti kurma dan anggur. Alasan hanya mencantumkan kurma dan anggur, karena diambil dari hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi:
Rasulullah Saw telah menyuruh supaya menaksir buah anggur itu berapa banyak buahnya seperti menaksir buah kurma, dan beliau menyuruh juga supaya memungut zakat anggur sesudah kering, seperti mengambil zakat buah kurma juga sesudah kering.
6. Sayur-sayuran, seperti wortel, cabai, terong dan lain-lain. Menurut mazhab Maliki, Syafi’i dan Hambali tidak wajib dizakati kecuali dimaksudkan untuk bisnis (masuk kategori zakat perdagangan).
7. Rumput-rumputan, seperti rumput hias, tebu, bambu, dan lain-lain. Menurut mazhab Maliki, Syafi’i dan Hambali tidak wajib dizakati kecuali dimaksudkan untuk bisnis (masuk kategori zakat perdagangan).
4. Binatang ternak
a. Unta
Nisab unta adalah 5 (lima) ekor. Artinya, bila seseorang telah memiliki 5 ekor
unta, maka ia telah berkewajiban mengeluarkan zakatnya. Zakatnya bertambah
apabila jumlah unta yang dimilikinya bertambah. Untuk memudahkan memahami
perkembangan zakat unta perhatikan table berikut:
Nisab sapi/kerbau disetarakan dengan nisab sapi, yaitu 30 ekor. Artinya, apabila seseorang telah memiliki 30 ekor sapi/kerbau, ia telah terkena kewajiban zakat.
Nisab kambing atau domba adalah 40 ekor. Artinya, apabila seseorang telah memiliki 40 ekor kambing atau domba, maka ia telah wajib mengeluarkan zakat.
d. Barang tambang
Ma'din (hasil tambang) adalah benda-benda yang terdapat di dalam perut bumi dan memiliki nilai ekonomis seperti emas, perak, timah, tembaga, marmer, giok, minyak bumi, batu-bara, dan sebagainya. Kekayaan laut adalah segala sesuatu yang dieksploitasi dari laut seperti mutiara, ambar, marjan, dan sebagainya. Nisab barang tambang adalah 2,5%.
6. Barang temuan/rikaz
Rikaz adalah barang-barang berharga yang terpendam peninggalan orang-orang terdahulu, yang biasa disebut dengan harta karun. Termasuk di dalamnya harta yang ditemukan dan tidak ada yang mengaku sebagai pemiliknya. Nisab barang temuan/ adalah 2,5 %.
Sumber: buku fikih siswa kelas VIII MTS kementrian agama 2020.

Komentar
Posting Komentar